Nama: Alfhy Rahmadi Aldi E-Mail: m_wn03@plasa.com Saya asal dari bangka belitung dan saya 22 [ P ]. Saya Jurusan Islamic Studies Semester 5 Fakultas Al Azhar Cab. Cairo Kampus saya: UIN Srarif Hidayatullah Di daerah: ciputat Propinsi: jakarta Homepage Kampus: http://pbb-iainjakarta.co.id Saran: Bangku kuliyah terkesan komoditas. Betapa tidak, beberapa PTN sampai ada yang memeatok 150 juta untuk mahasiswa baru. Malikn Fajar berpendapat, 'itu tak masalah selama mutu pendidikan oke dan ortu mampu (Gatra28/6/2003). Alasan unty membangun fisisk dan fasilitas, memang betul. tapi coba liet, 25% dari APBN dan APBd tidak sampai kekantong insitusi pendidikan melainkankan ke kantong pelaku insitusi tersebut. Itu tak seberapa, biaya maikin bengkak ketika anda menyaksikan lulusan SMU, bergelombolan masuk ke PTN lewat jalur PMDK. 25 s/d75 juta, itu ukuran biasa!. Belum lagi dengan gelombang ke II, alias pendaftaran mahasiswa baru usi SPMB. Bagi mereka yang enggak lulus, banyak diantara PTN dan PTS, mengobat luka kekecewaan tersebut, tetapi "sini daftar 200-400 juta, kamu akan jadi mahasiswa"!. Wow hebat!, dengan bangga bejo melangkah kakinya ke gerbang Universitas, yang menurutnya dibangku kuliyah enggak lagi diawasi guru, "kita udah mahasiswa man!, bukan SMU lagi', katanya bangga.
Patokan harga itu, karena memang membendung arus otonomisasi kampus, harus pula membuat penjaring air nya. Enggak dapet subsisi pemerintah, mahasiswa pun kian diperas. Eh...tahun depan kata dosen gua, SPP naik 40 persen. Dari 300.000 menjadi 1,2. PTN yang masih dapet subsisdi pun, rektorat dan dekanat pun masih harus putar otak lagi. (maklum 25 % itu entah kemana). Berbagai tempat penelitia dan simposium, menyabet proyek yang nominal enggak sedikit. Wajarlah kalao Pangsa FORD Foundation, Asia Fondation, IBM dll yang mengempanin mereka. Hore....! bukan hanya dosen, mahasiswa pun dapaet jatah, apalagi mereka yang aktif. "Gua 3 minggu nih jadi researcher Ekonomi, capek sih gue harus survai ke rumah rumah koresponden. Siapa yang akan menangani proyek penelitian ini? kata sang rektor. Oke kan udah ada LPM nih! (Lembaga penelitian/riset mahasiswa, pimpro nya, itu pak direktur saja!, pilih pak rektor.
Katanya sih, gosip menerpa ketua LPEM UI, M Ikhsan, yang hidup dengan bergelimang harta adalah hasil dari pundi pundi proyek penelitian. Kalau terjadi, tarohlah PTN di Jateng, Jatim dan Sumatra, isu dan gosep itu bukan lagi angin lalu. Masyarakat enggak tahu karena wartawan majalah hanya mengangkat isu itu kepermukaan, 1 tahun
sekali, tepatnya animo penerimaan mahasiswa baru. Waduh "Juli-Agustus Raint" Dong!!!!
pesen gua, awas! selebritis kampus berebut proyek. mahasiswa kudu pakai otak, alis jago analisa.
Banyangkan kalau bejo yang mampu membayar pendaftaran samapai ratusan, tetap saja kuliyahnya brantakan. Ya... gimana tidak, Ngomong gak becus, Demo gak pernah ikut, absen bolong bolong, baca buku/majalah, masih komik yang dulu: dari bobo, Wiro sableng, Aneka yess and rada rada ngeres (pop dan lipstik). Jaminan kerja udah ada sih, cuma kayaknya Si Bejo jadi kebo kampus aja, untung Si Nani gak jadi ayamnya.
Apa yang Gua ungkapakan, sorry, bukan apa apa, kita mesti melakukan rekonstruksi pendidikan Indonesia lagi kearah yang lebih serius. Kalau enggak, mendingan ngamen aja. Agar Bejo tau gimana menyikapi hidup, gak pakai teori materi kuliyah. Ayo, semanagt teman teman! kita mesti harus dibrain storming lagi tiap tahunnya. Agar enggak jadi mahasiswa abadi, alias diatas semester 14. Kacau, kalau diSMU kan mensti gak naik. Tapi di kampus????? bejo... bejo.....
Tanggal: 29/Juni/2003
|